Ingin Jadi Advokat Arsitek Part 1

Posted: March 22, 2011 in Serba-Serbi
Tags: , , ,

“Jadilah advokat arsitek, bukan advokat tukang” … kalimat yang pernah saya baca tersebut sangat menginspirasikan saya untuk menjadi advokat yang dapat membangun argumentasi hukum yang tepat dalam rangka menyelesaikan perkara2 yang sedang saya hadapi🙂.

Menurut Yusuf Amir (2010) ada 2 macam tipe advokat:

  • Tipe pertama adalah tipe advokat “tukang”, advokat jenis ini biasanya hanya akan bekerja bila ada order datang. Advokat jenis ini tidak akan memberikan arahan apapun kepada kliennya, karena sebenarnya pengetahuannya sangat dangkal dan Ia memang tidak mendalami perkara yang ditanganinya. Advokat tukang menjalankan profesinya bukan untuk memperjuangkan kebenaran, melainkan hanya untuk mencari formalitas belaka agar dapat memperoleh fee secepat-cepatnya.
  • Tipe kedua adalah tipe advokat “arsitek”, advokat jenis ini tentu berbeda dengan advokat tukang. Seorang advokat arsitek bekerja dengan sistematika yang sangat rapi dalam menyelesaikan setiap kasus yang ditanganinya. Dalam menyelesaikan perkara yang sedang ditanganinya, pertama-tama advokat arsitek akan mempelajari kasus yang sedang ditanganinya dengan cara mencari data dan informasi sebanyak-banyaknya. Langkah kedua, Ia akan berusaha memahami kasus sebaik dan secermat mungkin, untuk mempermudah penyusunan strategi yang akan digunakan dalam penyelesaian kasus tersebut.

Untuk menjadi seorang advokat arsitek tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan proses pembelajaran dan ketekunan agar seorang advokat benar-benar mampu menerapkan hukum dengan menggunakan keahliannya dalam membangun dan merancang argumentasi dan strategi hukum yang akan digunakan.

Sebagaimana diuraikan sebelumnya, seorang advokat arsitek akan bekerja dengan sistematis, untuk memperkuat argumentasinya, seorang advokat perlu melakukan penelitian hukum agar dapat dengan mudah memahami dan memcermati case position dan pada akhirnya dapat menentukan strategi yang akan digunakan.

Menurut pandangan Enid Campbell “in his or her professional career, the lawyer as well as legal scholar will find it necessary to discover the legal principle relevant to a particular problem” (Cohen, 1992) dari pernyataan tersebut dapat dikemukakan bahwa penelitian hukum perlu dilakukan oleh akademisi dan praktisi hukum (salah satunya advokat). Sepanjang pengamatan saya, dalam praktiknya tidak banyak advokat yang melakukan penelitian hukum dalam rangka menyelesaikan kasus-kasus yang sedang dihadapinya.😦

Untuk melakukan suatu penelitian hukum, seorang advokat harus mampu mengidentifikasikan isu hukum. Ketika seorang advokat salah mengidentifikasikan isu hukum, maka hal ini akan mengakibatkan salahnya jawaban atas isu tersebut dan selanjutnya salah pula dalam membuat argumentasi hukum yang diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.

Dalam praktiknya, salah satu kegagalan advokat yang sering di jumpai adalah kegagalan dalam membangun suatu argumentasi untuk memecahkan suatu isu hukum yang menjadi objek perkara, sehingga hal ini berimplikasi pada di tolaknya suatu gugatan😦.

Untuk menentukan isu hukum, diperlukan pemahaman yang mendalam tentang ilmu hukum, karena tidak mungkin seorang yang bukan ahli hukum mampu mengangkat isu hukum (Marzuki, 2008). (Mungkin hal ini yang menjadi alasan utama mengapa seorang advokat harus seorang sarjana hukum :)).

Sebelum melakukan suatu penelitian hukum, hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang peneliti adalah mengidentifikasi apakah isu yang dihadapinya adalah isu hukum atau bukan????. Terkadang, meskipun suatu masalah yang diajukan oleh klien adalah suatu kasus konkrit tetapi belum tentu di dalamnya terdapat isu hukum. Tidak dapat disangkal, adakalanya suatu kasus yang diajukan oleh klien bukan merupakan masalah hukum, tetapi seakan-akan sebuah masalah hukum.

Contoh yang dapat diajukan untuk mempermudah pemahaman tentang identifikasi isu hukum adalah sebagai berikut:

Seorang wanita berusia 29 tahun belum bersuami, hamil diluar perkawinan, datang kepada seorang advokat dan meminta bantuan hukum untuk menggugat laki-laki yang dikatakan telah menghamilinya, karena laki-laki tersebut menolak untuk bertanggungjawab.

Sekilas permasalahan tersebut nampak seperti kasus di bidang hukum keluarga, akan tetapi bila dicermati, persoalan tersebut lebih tepat berada pada ruang lingkup moral dari pada ruang lingkup hukum.

Suatu masalah dapat disebut sebagai masalah hukum, jika didalam permasalahan atau setidak-tidaknya di dalam fakta tersebut tersangkut ketentuan hukum yang relevan dengan fakta yang dihadapi. Baik ketentuan tertulis, maupun ketentuan yang tidak tertulis.

Pada contoh kasus diatas, dapat di identitifikasikan tidak terdapat isu hukum, sehingga dapat disimpulkan kasus diatas bukanlah kasus/permasalahan hukum. Dalam kasus tersebut tidak terjadi pelanggaran hukum di bidang hukum perkawinan, sehingga penyelesaiannya pun tidak melalui prosedur hukum. Jika si wanita ingin menyelesaikan permasalahan tersebut, maka Ia harus menggunakan hukum adat yang berlaku.

Langlah-Langkah Penelitian Hukum

Langkah pertama yang harus dilakukan untuk melakukan penelitian hukum adalah mengidetifikasikan isu hukum yang dikemukan oleh klien, karena sering kali kasus yang diceritakan oleh klien bercampur antara fakta dan pendapat klien. Dalam hal ini kita harus dapat membedakan mana yang fakta dan mana yang pendapat. Setelah mendapat kejelasan dan menangkap fakta yang dikemukakan oleh klien, langkah selanjutnya adalah kita harus memisahkan mana fakta yang mengandung isu hukum dan mana fakta yang tidak mengandung isu hukum🙂.

Berikut adalah contoh cara mencari fakta dan isu hukum pada suatu kasus:

Pada hari jum’at legi, Riswanto memasang water treatment di pabrik tahu saya. Saya membeli water treatment tersebut karena di tawari oleh salesman yang bernama Yongki. Orang ini yang mendemontrasikan alat itu ke perusahaan saya. Saya tertarik, lalu saya memesan alat tersebut dari perusahaan Yongki. Setelah saya memesan, Yongki menelpon dan memberitahu bahwa water treatment yang saya pesan akan di pasang pada hari jum’at. Saya sebenarnya keberatan, karena hari itu adalah jum’at legi, namun karena Yongki memaksa untuk memasang pada hari jum’at, akhirnya saya setuju water treatment dipasang pada hari itu. Yang memasang bukan Yongki, walaupun yang mengatarkan adalah dia. Kata Yongki dia bukanlah orang yang ditugaskan untuk memasang alat tersebut, sehingga yang memasang adalah orang lain. Saya menurut saja. Pada waktu memasang alat itu, Riswanto mengatakan kepada saya, bahwa Ia bukan orang dari perusahaan tempat Yongki bekerja, tetapi Ia selalu dipanggil oleh perusahaan untuk memasang water treatment. Ia mendapat bayaran setiap kali melakukan pemasangan. Sudah lima tahun Ia dipakai oleh perusahaan tersebut, dan tidak pernah terjadi apa-apa.

Sekarang belum sebulan saya pakai, alat tersebut sudah tidak berfungsi sebagaimana yang saya harapkan. Sejak awal saya sudah tidak enak, karena alat tersebut dipasang pada hari jum’at legi. Saya sebenarnya sudah di wanti-wanti oleh leluhur saya, bahwa saya tidak boleh melakukan suatu hal yang penting pada hari jum’at legi, tetapi karena waktu itu Yongki memaksa dan mendesak, makanya saya setuju. Karena Yongki memaksa saya untuk memasang alat itu pada jum’at legi, saya sangat dirugikan, pertama karena saya telah membeli alat tersebut, kedua semua saluran air telah dihubungkan ke alat itu, sehingga saya rugi karena saya tidak dapat memproduksi tahu selama beberapa minggu. Ketiga, karena tidak memasok tahu, saya di klaim para pengecer, dan keempat dan yang paling fatal adalah pengecer banyak yang pindah ke perusahaan lain.

Ketika Yongki saya lapori kejadian itu, Ia bersama teman-temannya memeriksa alat tersebut, dan katanya alat tersebut tidak rusak, tetapi pemasanganya yang salah. Pada waktu itu Yongki berjanji akan menghubungi Riswanto, tetapi sampai dengan saat ini Riswanto tidak muncul, begitu juga dengan Yongki. Sekarang saya bingung, apa yang harus saya lakukan?????????????

Kira-kira demikian cerita dari seorang klien kepada seorang pengacaranya🙂. Untuk menelaah kasus tersebut, seorang advokat harus mampu memilah-milah mana faktor-faktor yang relevan dengan fakta hukum. Dari cerita tersebut dapat disederhanakan bahwa klien telah membeli water treatment dari suatu perusahaan. Alat tersebut digunakan untuk memproduksi tahu. Alat tersebut dipasang oleh seorang yang bukan pegawai perusahaan penjual alat tersebut. Ternyata alat tersebut tidak dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan, sehingga menyebabkan kerugian bagi klien tersebut.

Isu hukum yang timbul dari kasus tersebut adalah:

1. Bagaimana perjanjian jual beli antara penjual water treatment dengan klien, terutama mengenai garansi (warranty)???

2. Apakah bentuk hubungan hukum antara Riswanto dan penjual water treatment????

3. Apakah penjual water treatment bertanggung gugat atas kerugian yang diderita oleh klien???

4. Berapa kerugian yang diderita oleh klien???

Dalam menjawab isu hukum yang pertama, seorang advokat harus menelaah klausula-klausula perjanjian antara perusahaan penjual water treatment dengan pengusaha tahu, terutama tentang garansi. Apabila tidak terdapat klausula seperti itu, maka advokat dapat menggunakan teori-teori kelaziman yang terjadi dalam perdagangan yang dianggap berlaku di dalam perjanjian jual-beli meskipun tidak diperjanjikan secara eksplisit.

Dalam ruang lingkup perdata hal ini disebut bestendige gebruike beding (syarat yang sudah dianggap ada meskipun tidak tegas-tegas dituangkan di dalam kontrak) (Marzuki, 2008). Umumnya dalam hal jual beli peralatan teknologi seharusnya terdapat klausula tetang garansi. Dengan berpegang pada aturan kelaziman semacam ini, advokat dapat menentukan apakah dalam perjanjian yang dilakukan oleh perusahaan penjual water treatment dengan pengusaha tahu berlaku ketentuan tersebut.

Isu kedua akan menentukan siapa yang harus di gugat. Dalam hal demikian, advokat perlu melakukan penelusuran perundang-undangan di bidang keagenan dan distributor. Hal ini dilakukan untuk menentukan apakah bentuk hubungan hukum antara perusahaan penjual water treatment dengan Riswanto, jika Riswanto bukan karyawan perusahaan penjual water treatment tetapi sudah dipakai oleh penjual water treatment selama lima tahun.

Apabila pengaturan tentang hal tersebut tidak dapat ditemukan dalam peraturan perundang-undangan, maka advokat dapat mencarinya pada yurisprudensi. Jika memang tidak ada yurisprudensi yang mengatur tentang ketentuan tersebut, maka advokat dapat menyusun gugatan yang menguntungkan kliennya dengan menggunakan logika yuridis dengan mengkronstruksikan hubungan hukum antara Riswanto dengan penjual water treatment.

Jawaban atas isu hukum kedua akan menentukan jawaban atas isu hukum yang ketiga. Jawaban atas isu hukum ketiga tentang jumlah kerugian yang dialami harus benar-benar diperhatikan, karena hal tersebut harus dituangkan di dalam gugatan. Di dalam gugatan harus dicantumkan secara jelas berapa besar jumlah yang akan diminta.

Setelah panjang lebar ngoceh sana sini, saya jadi laper… untuk hari ini, cukup sekian aja🙂.

Terimakasih buat teman2 dan rekan2 yang telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini, jika ada masukan dan kritik yang membangun, saya menerima dengan senang hati, silahkan tinggalkan pesan.

Salam Hangat🙂

Referensi :

  • Cohen, 1992
  • Peter Mahmud Marzuki, 2008
  • A. Yusuf Amir, 2010
Comments
  1. rudi says:

    mbak noviana mohon lebih dalam lagi mencari tahu tentang pekerjaan arsitek dan tukang itu agar tidak salah paham lebih jauh he2x salam

  2. rudi says:

    mbak noviana, mohon diklarifikasi tentang pekerjaan arsitek dan tukang itu apa memang seperti itu sebab cara bekerja arsitek dan tukang itu sebenarnya sama saja tergantung sisi individunya lagi pula tukang seringkali lebih efektif daripada arsitek hehe.. maaf yaa..salam

    • Mas Rudi thks untuk atensinya… saya rasa ga ada yg salah dng pekerja tukang…. “maaf bukan maksud saya untuk untuk menjustifikasi bahwa pekerjaan sebagai tukang kurang baik”. Saya hanya mengutip pendapat dr bapak yusuf amir… yg saya rasa dapat memberikan saya penjelasan tentang cara kerja yg baik sebagai seorang advokat dng menggunakan perumpamaan tukang dan arsitek untuk memberikan kemudahan dalam menggambarkan situasi pekerjaan seorang advokat🙂 kira2 sihhhh gituuuuu…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s